You are here
Mengenal Ciamis Lebih Dekat Lain Lain 

Mengenal Ciamis Lebih Dekat

Tanggal 12 Juni adalah tanggal angka dan bulan keramat bagi Kabupaten Ciamis karena memang itu momen sakral cikal bakal terbentuknya Kabupaten Ciamis. Berdasarkan keterangan yang dirangkum dari beberapa sumber yaitu Buku Sejarah Ciamis (hasil kerjasama Pemkab Ciamis dan LPPM Unigal, 2005), Dikutip dari https://www.harapanrakyat.com, Sejarah Kertabumi Ciamis (R. Gun Gun Gurnadi) dan Buku Onom jeung Rawa Lakbok (R.A.Danadibrata), penetapan tanggal tersebut memiliki riwayat dan latar belakang sejarah yang sangat panjang, dari jaman purbakala sampai jaman kemerdekaan.

Dalam catatan akhir Buku Sejarah Ciamis disebutkan ada lima pertimbangan yang melandasi penetapan Hari jadi Ciamis yaitu:

  • Dampak positif perkembangan pemerintahan dan masyarakat yang signifikan setelah R.P.A Jayanagara memindahkan pusat kekuasaan kabupaten Imbanagara ke Barunay.
  • Perpindahan itu mengandung unsur perjuangan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
  • Kabupaten Imbanagara akhirnya mampu menyatukan wilayah Galuh sehingga daerah kekuasaanya hampir menyamai wilayah Kerajaan Galuh tanpa melalui kekerasan.
  • Kesultanan Mataram pun mengakui kekuasaan Kabupaten Imbanagara dan menjadikan sekutu dalam mengusir penjajah.
  • Kenyataan hubungan antara Kabupaten Imbanagara dan Ciamis tidak dapat diputuskan.

Kabupaten Ciamis kala itu merupakan sebuah kerajaan yang di beri nama Kerajaan Galuh. Kerajaan ini sendiri masih berdiri hingga tahun 1595 yang dipimpin oleh Ujang Meni (putra Prabu Haur Kuning) setelah di abhiseka bernama Maharaja Cipta Sanghyang di Galuh dan pemerintahanya berpusat di Cimaragas. Ketika putranya yang bernama Ujang Ngekel yang kemudian bergelar Prabu Galuh Cipta Permana berkuasa tahun 1595-1608 M kerajaan dipindahkan ke Gara Tengah (Cineam Tasikmalaya).

Berubahnya sistem kerajaan di Galuh menjadi “Kabupatian” diakibatkan kuatnya pengaruh Mataram di jaman pemerintahan Mas Jolang dengan gelar Sultan Sultan Agung Hanyokrowati (1601-1613). PAda saat 1608 merupakan masa-masa peralihan system pemerintahan di Galuh saat pengaruh Mataram di Kartasura semakin kuat.

Dan pada akhirnya semua penguasa yang tadinya bergelar Prabu, Raja, Sang, Susuhunan dsb, dirubah oleh Mataram hanya menjadi Bupati dengan gelar Adipati atau Tumenggung hal itu terjadi ketika putra Prabu Galuh Cipta Permana yang bernama Ujang Ngoko naik takhta tahun 1606 dan hanya bergelar Adipati Panaekan. Oleh Mataram Adipati Panaekan diberi kekuasaan atas 960 cacah dan memerintah atas nama Sultan Mataram.

Adipati Panaekan mati terbunuh tahun 1625 oleh Adipati Singaperbangsa (adik iparnya yang menjadi Bupati di Galuh Kertabumi) akibat perselisihan faham antara mereka berdua menyangkut dalam rencana penyerangan terhadap Belanda ke Batavia. Kemudian Adipati Panaekan diganti oleh putrananya bernama Mas Dipati Imbanagara (Ujang Purba) yang berkuasa sampai tahun 1636 di Gara Tengah. Mas Dipati Imbanagara dituduh bersekongkol dengan Dipati Ukur oleh Sultan Agung akibat fitnah dari patihnya sendiri yang bernama Wiranangga karena berambisi jadi bupati. Mas Dipati Imbanagara akhirnya mendapat hukuman mati. Peristiwa ini sangat menyakitkan bagi masyarakat Galuh.

Mas Dipati Imbanagara dipenggal di Bolenglang (Ciamis) oleh Tumenggung Narapaksa dan kepalanya di bawa ke Mataram sebagai bukti. Badannya dikuburkan dan dikenal dengan makam Gegembung. Pengikut Imbanagara segera mengejar pasukan Mataram dan terjadilah perebutan kepala tersebut di sekitar Sungai Cijolang, namun kepala itu jatuh ke Leuwi Panten dan akhirnya terbawa juga Ke Mataram.

Setelah Mas Dipati Imbanagara tiada maka tampuk kekuasaan pemerintahan Bupati Galuh Gara Tengah dipegang oleh Mas Bongsar. Karena usianya pada waktu itu masih 13 tahun, untuk sementara jalannya pemerintahan dilaksanakan oleh Patih Wiranangga. Patih ini kemudian merobah isi piagam pengangkatan Mas Bongsar dari Sultan Agung dengan membuat piagam palsu yang menyatakan dirinya sebagai bupati.

Namun perbuatan ini diketahui oleh Ki Pawindan, ponggawa Mas Dipati Imbanagara yang menemukan piagam asli pengangkatan Mas Bongsar di Padaherang, dibawah kolong sebuah rumah panggung. Akhirnya terbongkarlah kebusukan Patih Wiranangga selama ini, dan Sultan Agung menjatuhkan hukuman mati. Namun atas permintaan Mas Bongsar, Patih Wiranangga yang masih Pamannya ini akhirnya diampuni. Mas Bongsar pun diangkat menjadi Bupati Galuh pada 6 Agustus 1636 dengan Gelar Raden Panji Aria Jayanegara. Dan nama kabupatennya berubah menjadi Imbanagara untuk menghormati nama ayahnya.

Menurut buku Sejarah Ciamis yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kab Ciamis bekerja sama dengan LPPM Unigal, Sejak tahun 1636 Kabupaten Imbanagara merupakan salah satu pusat kekuasaan di Galuh disamping Kertabumi dan Kawasen. Tahun 1641, kebijakan politik Mataram di mancanagara barat akibat dampak pemberontakan Dipati Ukur membuat wilayah Priangan di pecah menjadi empat kabupaten. Yaitu Sumedang,Bandung, Parakanmuncang dan Sukapura. Sedangkan wilayah Galuh dipecah menjdi 5 kabupaten yaitu:Imbanagara, Bojonglopang, Utama, Kawasen dan Banyumas.

Kabupaten Utama tidak lama kemudian dilebur ke wilayah Bojonglopang. Setelah itu terjadi lagi penciutan mancanagara barat oleh Sunan Amangkurat I penguasa Mataram yang menggantikan Sultan Agung, menjadi 12 ajeg (kabupaten) Yaitu : Sumedang, Bandung, Parakanmuncang, Sukapura, Karawang, Imbanagara, Kawasen, Wirabaya (Bojonglopang), Sekace, Banyumas, Ayah dan Banjar.

Gara Tengah ternyata menyimpan kenangan buruk bagi RPA Jayanegara sehingga beberapa kali ibukota kabupaten dipindahkan. Diantaranya ke Calingcing kemudian ke Bendanagara (Panyingkiran), sampai pada akhirnya ibukota ditetapkan di Barunay (antara Cikoneng dan Kota Ciamis).

Tempat ini memilki nilai strategis. Selain tidak kekurangan air juga memilki hamparan dataran yang luas, Barunay akhirnya berubah nama menjadi Imbanagara. Waktu itu berdasarkan perhitungan Rd.Rg. Kusumasembada dan Rd.Rachmat bertepatan dengan 12 Juni 1642. momen waktu inilah yang menjadi dasar penetapan berdirinya cikal bakal Kabupaten Ciamis. Dan Jayanegara memerintah selama 42 tahun. Imbanagara menjadi ibukota kabupaten berlangsung sampai tahun 1815. dan dari tahun 1642 sampai 1815 kabupaten-kabupaten lainnya seperti Kertabumi, Utama, Kawasen, Panjalu dan Kawali dilebur ke Imbanagara.

Hal itu mengakibatkan wilayah Imbanagara semakin luas, dari Sungai Cijolang sampai ke pantai selatan dan dari Citanduy sampai ke Sukapura. Bahkan wilayah yang terletak sebelah timur Citanduy seperti Dayeuhluhur, Nusa Kambangan, Cilacap dan Banyumas, dijadikan wilayah perwalian Kabupaten Imbanagara. Sehingga wilayah kekuasaan Kabupaten Imbanagara hampir menyamai luas Kerajaan Galuh sehingga kedudukan Imbanagara paling tinggi di wilayah Galuh.

Related posts