Karakter adalah properti yang dimiliki seseorang, termasuk pola pikir, perilaku, kebiasaan, dan kepribadian yang menjadi ciri seseorang dan membedakan antara dirinya dan orang lain.

Karakter memiliki dampak besar pada tingkat produktivitas dan etos kerja seseorang. Seseorang dengan nilai karakter akan memprioritaskan kualitas setiap aktivitas yang ia lakukan dan selalu berpikir dan lakukan untuk membantu orang lain. Itu sebabnya sangat penting untuk memasukkan nilai karakter sejak usia dini. Karena usia dini adalah usia yang tepat untuk memperkenalkan nilai-nilai karakter kepada anak-anak. Di era yang sering disebut Zaman Keemasan, anak-anak tidak banyak menderita dari hal-hal negatif karena pengalaman yang mereka miliki terbatas.

Maka satu-satunya contoh dari mereka adalah orang tua, guru, dan orang-orang terdekat di lingkungan itu. Hasil penelitian psikolog menyatakan bahwa evolusi kecerdasan seseorang dari lahir hingga 4 tahun adalah 50 persen. Kemudian berkembang menjadi delapan puluh persen ketika delapan tahun, dan dua puluh persen sisanya berkembang ketika seseorang berusia delapan belas tahun (Soetari, 2014)

Contoh dan kebiasaan

Anak usia dini dikenal sebagai peniru yang andal. Apa pun yang dilihatnya orang tuanya dan orang-orang di sekitarnya, mereka akan meniru. Masa kritis anak usia dini dapat digunakan oleh orang tua dan guru sebagai pendidik untuk memperkenalkan kebiasaan anak-anak. Kebiasaan ini akan sangat melekat pada anak-anak jika orang tua secara konsisten memberi anak-anak contoh anak-anak. Karakter anak-anak dapat dibentuk oleh kebiasaan. Misalnya, anak-anak yang terbiasa berdoa sebelum makan akan terbiasa tumbuh dewasa nanti (Cahyaningrum, Sudaryanti, Purwanto, 2017)

Metode bermain

Bermain adalah salah satu cara yang tepat untuk merangsang perkembangan dan memberikan nilai-nilai karakter kepada anak-anak. Karena bermain adalah kegiatan yang sangat disukai anak-anak. Ketika orang tua atau pendidik mengajar anak-anak melalui permainan, ini lebih mudah diterima dan dipahami oleh anak-anak. Karena anak menganggap bahwa pembelajaran yang ditawarkan adalah bagian dari kegiatan atau kegiatan yang menyenangkan. Permainan memiliki potensi besar untuk mencocokkan nilai tokoh anak-anak, yaitu permainan tradisional.